Sahabat
itu . . . . .
Suga
merengut.
Begitulah
ia setiap harinya, sepulang sekolah. Masuk
rumah, langsung ke kamar. Entah
apa yang dikerjakannya, hingga betah
mengurung diri seharian. Ia
selalu diam jika ditanya oleh sang mama. Diajak
makan siang pun tak mau. Mamanya jadi khawatir oleh kelakuan anak semata wayangnya itu.
Ya! Suga
memang telah berubah akhir-akhir ini. Tak
ada yang tahu penyebab ia berubah menjadi seperti itu.
“Assalamualaikum..,”
terdengar suara orang dari luar.
“Waalaikumsalam. Eh, nak
Acha. Mari masuk!” sambut Tante Wulan, sang mama.
“Suganya ada Tante?“ tanya Acha.
“Oh, ada
di kamarnya tuh. Nggak tahu! Akhir-akhir ini, Suga berubah. Setiap pulang
sekolah, langsung masuk kamar. Nggak keluar-keluar kecuali mau berangkat sekolah.
Itu aja kadang nggak pamitan sama Tante. Heran deh!” keluh Mama Suga.
“Hmm... kenapa ya Tante? Masalahnya, dia juga di sekolah kayak gitu Tante! Murung
terus. Tiap istirahat, selalu menyendiri di kelas. Diajak keluar nggak mau,”
Acha menambahkan.
“Coba
deh, kamu tanya sama dia! Mungkin dia mau ngomong sama kamu,” kata Mama Suga.
“Iya
deh Tante, Acha coba. Mungkin dia mau cerita,“ kata Acha sembari pergi menuju
kamar Suga.
Di
depan pintu kamar Suga, Acha mengetuk pintu.
“Ga, Ga, lu kenapa sich?“ tanya Acha sewot.
“Nggak!
Gue nggak kenapa-kenapa kok. Lu ngapain ke sini? Pulang aja gih! Gue lagi pingin
menyendiri!” sahut Suga dari dalam kamar, ketus!
“Yailah... segala menyendiri. Lu kenapa? Yakin ngusir gue nih? Lu tuh nggak bakal pernah bisa betah sendirian.
Buka pintunya buruan!” Acha terus mendesak.
“Nggak!
Mendingan, lu pergi aja sekarang! Gue lagi nggak pingin diganggu!“ timpal Suga.
“Gue nggak bakal pergi, sebelum lu buka pintu ini. Apa gue dobrak aja ni pintu?
Mau? Buka pintu apa dobrak?“ ancam Acha.
Akhirnya,
dengan perasaan kesal, Suga membuka pintu kamarnya.
“Nah,
gitu dong. Ini baru namanya Suga. Eh, lu kenapa sich? Kok jadi aneh gini? Nggak
di sekolah, nggak di rumah, sama aja cemberutnya. Kenapa? Cerita-cerita
dong… Buat orang khawatir aja deh! Kasihan tuh, nyokap lu, mikirin lu terus..” Acha
nyerocos.
“Nggak. Gue nggak kenapa-kenapa kok.” jawab Suga datar, tanpa ekspresi.
“Nggak
mungkin! Lu nggak bakalan diam kalau nggak ada masalah. Biasanya aja lu selalu
buat kehebohan di kelas. Tapi, karena lu kayak gini, tu kelas sepi banget kayak
kuburan. Hiyyyy..,” Acha bergidik.
Acha
dan Suga memang sudah lama akrab. Mereka sudah berteman sejak kecil. Mereka
adalah sahabat senasib sepenanggungan. Ada gula, ada semut. Di mana ada Suga,
disitu ada Acha. Begitulah orang–orang menyebutnya.
Sudah tiga hari Suga tidak masuk sekolah. Seluruh teman–temannya pun mencoba
menghubunginya, tetapi tidak bisa. Teman–temannya pun jadi khawatir, terutama
Acha. Ia menghubungi Tante Wulan, tetapi hasilnya nihil. Tak ada jawaban dari
Tante Wulan. Akhirnya, sepulang sekolah, ia mendatangi rumah Suga. Ia bertemu
dengan Bi Sumi, ART di rumah Suga.
“Bi,
Tante Wulan mana, Bi?“ tanya Acha.
“Oh..
Nyonya lagi di rumah sakit Non,” jawab Bi Sumi dengan raut khawatirnya.
“Di
rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit Bi?“ tanya Acha.
“Non
Suga,” jawabnya.
“Hah?
Suga? Suga sakit? Sakit apa Bi? Itu anak ternyata bisa sakit juga ya?
Kecentilan banget, pake dibawa ke rumah sakit segala. Ya udah Bi, aku minta alamat rumah sakitnya ya, mau kesana,” pinta Acha.
“Rumah
Sakit Sehat Selalu, Jalan Gatot Subroto no. 25."
“Oke makasih ya Bi. Yaudah Bi, aku pamit pulang dulu, mau liat Suga, si anak kecentilan itu. Assalamualaikum...” pamit Acha.
“Waalaikumsalam.
Hati–hati di jalan Non."
Sesampainya
di rumah sakit, ia langsung menuju ke resepsionis.
Tetapi, meskipun sudah dicari berkali-kali oleh sang resepsionis, tetap saja
tidak ditemukan pasien yang bernama Suga. Acha jadi khawatir. Jangan…jangan…
Keesokan
harinya, ketika di sekolah, ia melihat semua teman–temannya menangis tersedu
sedu. Ia penasaran. Ia bertanya kepada Fira, sekretaris kelas.
“Fira,
kenapa kalian semua? Kenapa semua nangis? Ayo ngomong! Ngomong!“ tanya Acha
penuh emosi.
“Suga
Cha.. Suga..“ jawab Firas terputus-putus.
“Suga?
Kenapa Suga? Suga dimana? Ayo cerita! Kenapa?“ Acha bertanya tak sabar.
“Suga
meninggal Cha! Dia bunuh diri!“ jawab Firas semakin terisak.
“Apa??? Suga? Meninggal? Nggak mungkin, nggak mungkin! Aku nggak percaya! Nggak! Aku
nggak percaya!“ Acha berlari meninggalkan kelas. Teman-temannya pun bergegas bertakziah ke rumah Suga.
Semua
orang berduka. Tidak ada yang menyangka akan kepergian Suga yang begitu
cepatnya dengan cara yang sangat tragis. Terlebih keluarganya, khususnya sang
mama. Ia benar-benar terpukul.
“Tante ayo pulang. Suga sudah tenang di sisiNya. Bukan salah Tante, jangan disesali. Ayo
pulang Tante. Sudah mulai sore,” rayu Acha.
Tante
Wulan pun akhirnya menurut.
Setelah
sampai di rumah Suga, Tante Wulan meminta Acha untuk menginap, menemaninya
karena kesepian. Acha pun mengerti dan mengiyakan. Ia segera menelepon ibunya,
untuk berpamitan menginap di rumah Suga.
Hari beranjak malam, Acha diminta Tante Wulan untuk tidur di kamarnya Suga.
Awalnya Acha ragu. Namun, setelah Tante Wulan meyakinkan tak akan terjadi
apa-apa, Acha pun mengangguk. Ia masuk ke kamar Suga. Berbaring, mencoba
memejamkan mata. Namun, hingga pukul 23.30 malam, ia tetap tidak bisa tidur. Ia
mengamati sekeliling kamar Suga dan matanya tertuju pada sebuah kaset tape yang tergeletak di meja belajar
Suga. Ia penasaran. Ia beranjak dari tempat tidur, menuju meja dengan perlahan, diambilnya kaset itu, kemudian disetelnya.
“… Gua percaya
kata pepatah. Kehidupan itu seperti roda yang berputar. Kadang di atas, kadang
di bawah. Tapi, gua masih belum siap ketika posisi kehidupan gua, ibarat ketika
roda ada di bawah.
Sahabat? Apa
sich, arti sahabat yang sebenarnya? Gua penasaran. Orang yang selalu ada di
samping kitakah? Yang ada dekat kita di saat kita senang, dan meninggalkan kita
di saat susah? Apa itu yang namanya sahabat? Atau, orang yang ngerebut orang–orang
yang kita cintai, dengan alasan, dia sahabat kita, jadi, harus tahu semua
tentang kita, termasuk orang-orang terdekat kita? Orang yang ngerebut orang
yang kita cintai, dengan cara menusuk kita dari belakang? Itu yang namanya
sahabat? Yang merasa bangga, tersenyum puas dan tertawa senang, ketika mereka
mendapatkan apa yang mereka inginkan? Meskipun kita merasakan sakit yang luar
biasa, karena kehilangan orang yang kita cintai, tetapi seorang sahabat tak
menghiraukan penderitaan yang kita alami? Sahabat? Itukah sahabat?
Aku pernah! Aku
sudah! Aku sering! Mendapat perlakuan seperti itu dari orang, yang mungkin,
bisa disebut sebagai sahabat. Dia ngerebut semua orang terdekat ku, yang aku
cinta, yang aku sayang, dengan cara menusuk aku dari belakang. Dia bangga, tersenyum
puas dan tertawa senang, ketika ia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan,
merebut orang-orang yang aku sayang! Dia beserta mereka (yang sekarang sudah
menjadi miliknya), meninggalkan aku begitu saja! Dia tidak menghiraukanku. Mereka
meninggalkanku dalam penderitaan dan
keterpurukan yang amat sangat. Meninggalkan luka yang mendalam, karena
aku harus kehilangan orang–orang terdekatku.
Aku sakit! Aku
nggak kuat! Aku nggak sanggup, menerima kenyataan ini! Aku nggak tahan.!
Lebih baik aku
mati saja, daripada aku harus hidup dalam penderitaan!!!“
Acha
terhenyak! Sahabat? Itukah dirinya?
Ia
masih memikirkan kata-kata Suga. Ketika pukul 00.00, seketika angin berhembus
kencang. Lampu kamar Suga seketika padam. Jendela terbuka secara tiba-tiba. Gordyn beterbangan. Setelah itu, ia
melihat sosok bayangan berkelebat dan menuju ke arahnya. Ia ingin berteriak,
tetapi tidak bisa. Dan...
Keesokan
harinya,,,
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ....... “ Tante Wulan berteriak serak.
Acha
ditemukan terduduk tak bernyawa di meja belajar Suga dalam
keadaan memegang kaset tape yang
sudah berwarna merah, berlumuran karena darah!