Cari disini

Sabtu, 30 Mei 2026

Why haven't you left, even after I did?

Gamon, bahasa populer kekinian. Gagal Move On. Ironi, tapi cukup menyakiti diri.

Mira memandang kosong tembok langit kamarnya. Ia terbangun sedih. Ini sudah kesekian kalinya. Uring-uringan karena terus memikirkan sosok yang sama.

---

"Kamu gapapa? Aku minder soalnya, nggak kayak kamu. Kita berbeda."
Perkataan Revan dulu saat mengajaknya menjalin hubungan. Mira mengangguk meyakinkan.

Revan dan Mira backstreet. Mereka harus berpura-pura tidak saling mengumbar rasa meski menjadikannya terlihat salting (salah tingkah).

"Aku basket sore ini. Kamu pulang duluan aja, hati-hati ya," ujar Mira selesai kelas.

"Iya, kamu selesai basket jam berapa?" Revan mengemas barang, bersiap pulang.

"Belum tahu karena ini perdana tapi kayaknya nggak mungkin sampai jam 6."

"Oke hati-hati. Semangat club barunya!" Revan melempar senyum, ingin rasanya menggenggam tangan Mira tapi ingat status backstreet mereka tak memungkinkan ia melakukannya.

Di lapangan basket yang hampir memudar catnya, Mira terduduk memperhatikan. Coach mengenalkan diri dan menjelaskan basic rules club basket ini. Jujur saja, sampai detik ini pun, Mira masih belum mengerti mengapa ia memilih basket sebagai club pilihannya. Yang ia bisa pastikan, Ara, teman dekatnya, satu club basket dengannya. Saat ini ia hanya mengikuti instruksi saja, pikirannya entah dimana. Ia ingin cepat pulang.

"Aku di depan gerbang sekolah." Pesan singkat Revan masuk ke HP Mira.

Mira tersenyum bersemangat. Club usai, Mira berlari menghampiri tak sabar. Hati Mira berbunga meski little act of service Revan hanya berupa kejutan menjemputnya pulang. 

"Mau makan dulu?" Revan menawarkan.

"Nggak usah, langsung pulang aja. Aku keringetan, bau badan," Mira bergegas.

Tak butuh waktu lama untuk Revan dan Mira berboncengan menuju rumah Mira. Dalam perjalanan pun mereka lebih banyak diam menikmati senja. Bahkan semesta pun sepertinya tahu ada dua insan yang sedang jatuh cinta.

---

"Tugas kali ini buatlah business model impian kalian, Tidak harus mewah, yang penting poinnya masuk, dari awal membuat business plan sampai eksekusi. Satu minggu cukup untuk nanti presentasi di depan kelas ya. Paham semua?" Bu Rini menjelaskan tanpa jeda.

Huft... Mira paling tidak suka teori dan project. Lebih baik ia diberikan 1000 soal numerik daripada harus memikirkan konsep dan teks.

"Udah tau mau bikin bisnis apa?" Revan menghampiri Mira.

"Belum. Tau kayaknya mau buat FnB (Food & Beverage) yang simple tapi mikirin harus buat business modelnya itu loh yang wow... huft...," Mira menghela napas, terbayang akan rumitnya proses pengerjaannya.

Revan tersenyum tipis. Ia memahami Mira, salah satu faktor yang membuatnya jatuh cinta adalah karena Mira cerdas, lebih cerdas dibanding dirinya.

---

Selesai kelas, Mira bergegas pulang karena tak sabar ingin berbaring di kamarnya. Jam berangkat dan pulang sekolah adalah waktu yang paling sulit untuk mereka berangkat dan pulang bersama karena backstreet. Curi-curi waktu saat club adalah momen pas untuk mereka bersama meski memang harus menjaga jarak dari keramaian. Mira yakin suatu saat jika memang mereka harus go public, tidak ada yang membencinya, juga membenci Revan.

"Kamu bisa keluar sebentar? Aku di depan rumah kamu," notifikasi dari Revan membangunkan Mira. Terkejut, Mira melihat jam, pukul 7 malam! Itu artinya ia tertidur cukup lama dari siang. Buru-buru ia merapikan rambut, berlari keluar mengampiri Revan.

"Kamu dari tadi?" Mira setengah linglung karena masih belum sepenuhnya "bangun".

"Nggak, barusan. Kamu baru bangun?"

"Iya, aku ketiduran dari pulang sekolah. Maaf ya," Mira manyun, masih mengumpulkan kesadarannya.

"Nggak papa. Maaf aku jadi bangunin kamu. Ini aku mau anterin tugas Business. Aku bikinin dua sekalian, punyaku dan punyamu. Jujur kalau dari tipenya sama, karena aku ngerjainnya sekalian. Tapi tenang aja, beda model. Aku bikin gadget store, kamu bikin laundry. Nanti bisa dibaca-baca dan dicek lagi ya. Mungkin ada yang pingin kamu ubah versi kamu buat besok presentasi," Revan menyerahkan papernya sambil menjelaskan detail.

Mira terpaku. Tuhan, jika Kau berkenan aku memohon, aku ingin terus bersama Revan, bolehkah? Bulir air mata menetes di pipi kanannya tanpa Mira sadari.

"Kamu sakit?" Revan panik melihat Mira menangis.

Mira melangkah mendekat, memeluk Revan erat. Revan yang terkejut hanya bisa mematung, sebelum akhirnya menyambut pelukan Mira.

"Revan, makasih ya. Kamu sudah berusaha dan itu membuat aku semakin jatuh cinta," Mira berkata lirih.

Revan mendekapnya lebih dalam. Mengusap kepala Mira dan mengecupnya.

"Aku cuma berusaha untuk selalu jadi yang bisa diandalkan sama kamu. Aku nggak tahu cara bahagiain kamu. Yang bisa aku lakuin cuma melakukan hal-hal yang bisa membantu kamu dan buat kamu happy, nggak buat kamu terbebani," Revan menimpali.

"Iya, aku merasa aku nggak ngapa-ngapain dan selalu repotin kamu. Sejujurnya aku takut kamu bosan sama aku karena aku flat. Aku takut kamu nggak nyaman dan nggak happy sama aku karena kita nggak bisa ngedate. Kita backstreet. Aku overthinking," Mira terisak.

"Nggak, aku nggak merasa begitu. Selama kamu tersenyum dan happy, aku juga happy. Kalau kamu mau, aku bisa nunjukin kalo kita pacaran. Nggak backstreet lagi. Tapi itu tergantung kamu, sesiapnya kamu, yang penting kamu nyaman."

Mira bergeming. Backstreet memang pilihannya. Ia takut kalau kabar bahwa ia berpacaran dengan Revan membuat ia dibenci orang karena Revan punya banyak fans. Egois memang, tapi ia merasa untuk saat ini, memang lebih baik begini.

---

Hari pertama kelas 12. Itu artinya, tahun terakhir Mira di SMA sebelum kelulusan dan berpisah dengan teman-teman, juga Revan. Dua tahun backstreet yang mereka jalani ternyata cukup mudah untuk dilalui dan bisa bertahan sejauh ini.

"Jadi kamu mau kasih tau teman-temanmu?" tanya Mira memastikan.

"Jadi. Kamu beneran udah siap?" Revan balik bertanya.

"Ya, harus siap. Toh, udah tahun terakhir juga kan di SMA," Mira meyakinkan dirinya.

Pada akhirnya, seantero sekolah tahu hubungan Mira & Revan. Revan mengenalkan Mira kepada teman-teman dekatnya dan kabar itu menjadi luas karena circle Revan cukup populer & ekstrovert. Ketakutan Mira bahwa ia akan dibenci sebagai pacar Revan pun tidak terbukti sepenuhnya, meski ada, tapi masih bisa diatasi.

Pulang dan pergi bersama, jalan-jalan ke tempat wisata berdua atau bersama teman-teman, mereka habiskan di sisa waktu sebelum kelulusan. Bagi Revan & Mira, menciptakan momen dan kenangan sebanyak-banyaknya sebisa mungkin karena mereka sadar tak bisa bersama terus selamanya.

"Kamu kepikiran mau kuliah dimana?" tanya Mira sambil meneguk air kelapa muda, hening, hanya suara debur ombak mengiringi sesekali.

Revan membetulkan posisi duduknya, meletakkan kelapa muda di tangannya, memeluk lututnya dan melempar jauh pandangannya ke pantai.

"Aku pingin terus sama kamu. Kalau boleh memilih pun, aku pilih satu kampus sama kamu. Tapi aku sadar, aku nggak sepintar kamu. Nggak secerdas kamu," Revan menghela napas, tertahan.

"Aku disuruh Papa daftar di Yogya. Papa bilang bagus untuk aku yang punya kemampuan segini. Papa juga udah mikirin kerjaan aku kalau akhirnya aku nggak bisa kuliah," sambung Revan.

Mira terdiam. Tatapannya nanar, ada kesedihan yang terpancar dalam diamnya.

"Kamu jadi daftar kuliah di Bogor?" tanya Revan memecah keheningan.

"Jadi." Mira menjawab singkat. Sedih, ingin rasanya marah tapi ia tidak tahu sebabnya.

"Nggak apa. Kejar cita-cita kita. Aku yakin kok pada akhirnya ini yang terbaik untuk kita. Kan aku bisa ngelamar kamu setelah selesai kuliah," Revan mencoba berkelakar.

Mira tersenyum tipis. Kuliah? Empat tahun? Menikah dengan Revan? Apakah ia sanggup selama itu? Apakah mereka bisa bertahan?

"Kamu sanggup LDR?"

Air mata Mira jatuh tak tertahan. Mira menangis terisak, sesak. Revan dan semua memori bersamanya berebut berputar menjadi satu dalam benaknya. Revan melingkarkan tangannya di sepanjang bahu Mira, menyandarkan kepala Mira ke dalam dadanya, mencoba menenangkan. Saat ini, hanya diam yang bisa mengisi kekosongan dalam benak pikiran mereka masing-masing.

---

Is this new?

Apa benar pernyataan semakin tinggi pohon menjulang, semakin kuat angin menghantam?

Itu tidak penting sekarang. Aku Mira, remaja SMP (cukup) populer kata mereka. Aku kelas 9-5 tapi kutahu ada seorang laki-laki kelas 9-4 yang menyukaiku sejak kelas 7. Bisa jadi aku terlalu percaya diri tapi kadang bukti sudah tersaji tanpa dicari.

Usiaku 30 tahun sekarang. Aku memimpikan dia. Aku rindu dia ternyata. Kucari sosmednya, ah, ketemu!
"Dan, apa kabar? Ini Mira, inget nggak? Semoga masih ya! Gue mimpiin lu semalem, mimpi lu celaka. Gue bangun deg-degan dan makesure kalau itu nggak bener! Gue effort lho nyari sosmed lu hm," aku merinci tanpa henti melalui teks.

Lama ku menunggu balasan. Sedih, jangan-jangan sosmednya nggak aktif, pikirku.

"Halo Mir! Iya inget, mana bisa gue lupa ama lu," responsnya.

 Hatiku berdesir. Apa aku juga menyukainya? Bahkan meski terlambat sadar setelah hampir 20 tahun lamanya? 

Apapun itu, toh aku berdoa untuknya (dan juga untukku tentunya). Kami bahagia meski tak bersama.